Kamis, 09 Oktober 2014

Standard Pemeriksaan & Pengujian



 Instalasi Fire Hydrant

  • Latar Belakang
Dengan pertimbangan mengenai kondisi safety peralatan instalasi fire hydrant dan kekhawatiran mengenai kondisi instalasi . Dan juga adanya kebutuhan untuk melaksanakan program perawatan intalasi fire hydrant yang tepat, maka dilaksanakanlah pemeriksaan dengan tujuan :
Dengan mengacu pada fakta-fakta diatas dan standar pipe code yang ada mengenai Piping inspection, maka secara teknis dipandang perlu untuk melakukan Reliability Analysis terhadap instalasi pipa fire hydrant tersebut.
  • Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan Reliability terhadap instalasi fire hydrant tersebut adalah untuk melakukan evaluasi terhadap kehandalan kondisi instalasi. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan antara lain
1.       Pemeriksaan NDT ( penetran test ) dan leak test pada instalasi fire hydrant untuk mengetahui atau meyakinkan bahwa instalsi yang dioperasikan dalam kondisi aman dan keselamatan kerja yang memenuhi syarat telah diproteksi dengan safety device yang berfungsi baik dan mempunyai perlengkapan pengukur (indikator-indikator) yang memenuhi syarat
2.       Pengukuran ketebalan pipa pada titik-titik yang berpotensi terjadi korosi terbesar, dimana mewakili kondisi pipa instalasi secara keseluruhan termasuk memperhitungkan hasil survey dengan menggunakan DM 4 DL.
3.       Pelaksanaan Risk Assessment yang mencakup identifikasi penyebab potensial failure dan pengaruhnya terhadap kelangsungan operasi instalasi terhadap lingkungan.
4.       Pelaksanaan Remaining Life Assessment berdasarkan kondisi riil actual pipa, parameter operasi dan lingkungan yang ada, dengan melakukan perhitungan engineering untuk memperkirakan umur pakai dari pipa tersebut .
Dari data hasil pemeriksaan tersebut diatas dan evaluasinya yang mengacu pada standar pipe code yang ada, maka bisa diperoleh kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :
1.       Apakah instalasi fire hydrant tersebut terus bisa dioperasikan , sampai seberapa lama dan handal untuk kondisi operasi dan lingkungan yang ada.
2.       Apakah pipa tersebut memerlukan perbaikan untuk bisa terus beropersi secara aman dan handal, adapun jenis perbaikan tersebut bisa meliputi ,
Misalnya :
1.       Sistem Coating atau Proteksi Cathodiknya.
2.       Penggantian pipa secara partial.
3.       Penggantian / perbaikan valve yang rusak
4.       Supportnya dan sebagainya

  • PENDEKATAN ENGINEERING

1.       REFERENSI
1.       API 570 piping inspection Code. Inspection, Repair, Alteration and Repairing of In – service piping system.
2.       API – RP 574 Inspection of piping system components.
3.       ASME B31G, Manual for Determining the Remaining Strength of Corroded pipelines.
4.       ASME B31.
5.       NACE RP 0169, Control of External Corrosion Underground or submerged Metallic Piping System.
6.       NACE RP 0175, Control of internal Corrosion in Piping System.
7.       Undang-undang No 1 tahun 1970
8.       SK DIRJEN Perlindungan dan Perawatan Tenaga Kerja No Kepts. 40/1978
2.       PELAKSANAAN
Prosedur pelaksanaan pekerjaan ini disusun untuk menjadi panduan dalam melaksanakan pekerjaan pemeriksaan instalasi fire hydrant. Adapun teknik yang akan digunakan adalah random-thickness measurement, leak test setiap valve serta keseluruhan instalasi baik dengan metode NDT ataupun hydrotest.Sementara itu untuk random-thickness measurement akan dipilih pada titik yang diduga berpeluang mendapat serangan korosi terberat, yakni di titik down-stream pada shinker section pipa dan setelah section valve. Pemilihan titik ini dilakukan dengan asumsi bahwa turbulensi aliran yang bisa menyebabkan kerusakan permukaan internal dinding pipa besar peluangnya untuk terjadi di titik tersebut.Pengambilan data ketebalan dinding pipa dari pipa penyalur ini adalah untuk mengetahui kondisi terakhir ( pada saat pengukuran ) dari jaringan pipa, dimana hasil dari pengukuran akan dibandingkan dengan design ketebalan awal sehingga akan diketahui laju korosi. Dari hasil tersebut kemudian diambil langkah-langkah yang perlu guna perbaikan dan penyempurnaan jaringan pipa penyalur ini, sehingga dapat memenuhi persyaratan keamanan, Keselamatan kerja serta lindungan lingkungan.

·         METODOLOGI INSPEKSI

 1. PENGAMATAN VISUAL

Pengamatan visual dari fakta instalasi dilakukan untuk mengetahui keadaan pipa, coating ,kondisi dari support dan perlengkapan peralatan.Hasil visual akan dievaluasi sesuai dengan mode failure and deterioration serta didokumentasikan dalam bentuk table dan foto-foto.
 2. UJI NDT ( Penetrant Test )
Pengujian ini dilakukan uji pada body setiap valve dan daerah sambungan secara random yang mengacu dari hasil visual. Pengujian tersebut dapat memberikan gambaran kondisi valve serta sambungan terhadap cacat dibawah permukaan.
 3. PENGUKURAN KETEBALAN PIPA
Pengukuran ketebalan dilakukan dengan pengukuran samping secara random/acak. Lokasi pengukuran dibagi menjadi 4 (empat) section/bagian dan masiang-masing bagian diambil 3(tiga) titik pengujian sehingga keseluruhannya menjadi 12 tiik Dari masing-masing titik uji diambil 4 posisi pengambilan data pada orientasi 0, 90,135 dan 180 derajat dan masing –masing posisi tersebut diambil 10 itik yang terjarak masing-masing 1 cm sehingga pada setiap titik lokasi pengukuran diperoleh 40 data hasil pengukuran. Titik –titik yang dipilih adalah lokasi yang mempunyai karakteristik sebagai tempat dengan peluang terbesar terjadinya korosi atau peluang defect tinggi, yaitu daerah low-sot, deadleg, dan elbow sehingga hasil pengukuran di titik-titik tersebut dapat mewakili gambar kondisi dilokasi yang tidak diukur. Data- data tersebut dapat memberikan gambar kondisi seluruh pipa.
 4. UJI KEBOCORAN
Pengujian ini dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada instalasi fire hydrant dan ditahan secukupnya untuk melakukan analisa kebocoran pada keseluruhan instalasi 
 5. KESIMPULAN DAN SARAN
Untuk mencapai tujuan di atas dan dikaitkan dengan metodologi pengambilan sample beberapa catatan berikut dibuat sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan menindaklanjuti hasil-hasil dari pemeriksaan ini :
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik, jika metode yang sama akan digunakan maka sebaiknya instalasi ini dilihat dulu dalam satu kesatuan dan ditinjau perbagian seperti :
  1. Penentuan berdasar kritikal area
  2. Pengelompokan line number.
  3. Pengelompokan valve dan peralatan penunjang lainnya 
Data-data Penunjang
1. Instalasi fire hydrant Data Sheet
Data sheet ini dapat digunakan sebagai sumber informasi pertama karena akan memuat data-data teknis pada saat design dan pemasangan seperti Pressure yang dipakai, thickness yang digunakan, rating dari peralatan dan protection jenis coating.
2. As-built Data
Bahan-bahan ini akan bermanfaat sebagai petunjuk untuk memilih bagian-bagian yang harus mendapat perhatian lebih dan / atau focus dan suatu program inspeksi.
3. Environmental Data
Data ini sangat bermanfaat untuk melihat pembagian klasifikasi area dimana tergantung dari faktor resiko.
4. Monitoring equipments/ tools
Mengenai keberadaan monitoring equipment/tools di dalam sistem instalasi ini seperti : fire hydrant, smoke detector , alarm, hose dan sprinkle.
.
ORGANISASI PELAKSANA
Untuk mendapatkan hasil yang baik dengan efektifitas kerja yang memadai, maka pekerjaan pemeriksaan ini akan dilaksanakan oleh team kerja yang terdiri atas personil dengan tugas masing-masing yang jelas. Organisasi tersebut terdiri atas:

Koordinator Pekerjaan
Koordinator Pekerjaan akan memantau perkembangan pekerjaan dari kantor pusat, dan akan terjun ke lapangan jika keadaan memerlukannya sesuai dengan permintaan dari Supervisor Lapangan. Sebagai Koordinator Lapangan, tugas dan kewajibannya tidak terbatas pada satu pekerjaan, melainkan beberapa proyek yang digarap oleh perusahaan sehingga fungsinya lebih cenderung kepada kebijaksanaan.

Supervisor Lapangan
Selama pekerjaan lapangan berlangsung, team pelaksana akan dipimpin oleh seorang Supervisor Lapangan, yang bekerja juga sebagai Pimpinan Team. Dia berperan sebagai penerus kebijaksanaan yang digariskan oleh Koordinator Pekerjaan dan mengatur tugas team, peralatan, logistik, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kelancaran pekerjaan lapangan. Supervisor Lapangan akan memberikan laporan kegiatan harian kepada Koordinator Pekerjaan dan kepada wakil dari client di lapangan, serta melaporkan berbagai kelainan tehnis yang ditemukan di lapangan untuk dianalisa oleh Koordinator Pekerjaan dan dicarikan jalan keluarnya.

Petugas Ultrasonik
Ketebalan sisa pipa akan diukur dengan menggunakan tehnik ultrasonik DM 4 DL. Titik pengukuran akan dilakukan disekeliling badan pipa pada setiap cm dan kearah memanjang setiap cm dengan total panjang 20 cm. Hal ini disesuaikan dengan rekomendasi yang ditetapkan sesuai dengan Standar di lapangan, scanning ketebalan akan dilaksanakan oleh Petugas Ultrasonik dibantu oleh 1 orang pembantu untuk pembersihan bidang yang akan diukur.

Petugas NDT
Peralatan NDT akan digunakan untuk mengetahui kondisi sambungan serta peralatan lain yang menjadi target pengecekan. Seorang petugas NDT akan mengidentifikasi daerah target dan diikuti oleh team untuk kepentingan lebih lanjut

Team Pendukung
Team pendukung pekerjaan ini adalah tenaga pembantu. Tugas mereka akan diatur oleh Supervisor Lapangan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan team inti.

STRATEGI PELAKSANAAN
Untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal secara efektif, maka perlu diatur urutan pelaksanaan, sistim pelaporan, dan tehnik pelaksanaannya.
Urutan Pekerjaan
Pekerjaan harus dilakukan dengan urutan yang benar agar hasil pemeriksaan yang satu dengan lainnya bisa saling menunjang dan sinkron. Supaya bisa memperoleh hasil yang baik maka pekerjaan akan diurutkan seperti berikut:
  1. Supervisor Lapangan bersama-sama dengan Petugas Lapangan akan melakukan penelusuran jalur untuk menentukan dimana titik pengukuran ketebalan dan pemeriksaan NDT akan dilakukan.
  2. Akan dilakukan tindak lanjut pekerjaan apabila ditemukan kerusakan atau kebocoran.
  3. Analisa engineering akan dilakukan berdasar dari data pemeriksaan tehnis.
  4. Rekomendasi-rekomendasi untuk dijadikan acuan dan pertimbangan guna keamanan dan keselamatan dalam pengopresian instalasi tersebut.


Fire Flow Testing

Fire Flow Testing is a widely used method for estimating the available fire flow from specific fire hydrants within water distribution systems. It is important for communities and industries to regularly test fire hydrants/sprinkler systems to determine their capabilities in an emergency situation. Water systems are constantly impacted by improvements, deterioration, and changes in usage.

Fire Flow Testing is frequently used in the calibration process for a hydraulic water distribution system model to determine roughness coefficients and to find closed valves.

New York Leak Detection, Inc. (NYLD) connects a flow gauge to a test hydrant to measure static and residual pressures:

Static Pressure exists at a given point under normal distribution system conditions measured at the residual (gauge) hydrant with no hydrants flowing.
Residual Pressure exists in the distribution system, measured at the residual (gauge) hydrant at the time the flow readings are taken at the flow hydrant(s).

NYLD flow tests are extremely accurate, with +/- 4 gpm accuracy throughout the range. The electromagnetic flow tester reads static pressure, dynamic pressure, instantaneous flow, and total flow.

NYLD equipment measures flow from 8 to 792 gpm and maximum pressure to 362 psi on a digital readout.

Fire flow test data provides necessary information for water service planners, fire protection bureaus, and building designers. Design professionals use the gallons per minute and pressure available from the water system when drawing sprinkler system plans.

Fire flow testing can uncover a number of mechanical problems so they can be repaired before the hydrant/sprinkler system is needed in an emergency.

Spesifikasi Pekerjaan Mekanikal Elektrikal Hydrant Sistem

I.         PERSYARATAN TEKNIS UMUM

1.1.     PERATURAN DAN STANDARD
  • Tata cara pelaksanaan dan lain-lain petunjuk yang berhubungan dengan peraturan-peraturan Pembangunan yang sah berlaku di Republik Indonesia..
  • Selama pelaksanaan spesifikasi ini harus betul-betul ditaati, diikuti serta sesuai prosedure yang diberlakukan Pengawas.
  • Peraturan-peraturan berikut ini merupakan acuan dalam rangka perancangan maupun pelaksanaan Instalasi Fire Hydrant
                  PERATURAN-PERATURAN
                  a.   Perda Pemda setempat
                        Penanggulangan Bahaya Kebakaran Dalam Wilayah Setempat
                  b.   Departemen Pekerjaan Umum, Skep Menteri Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya  Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.
                  LITERATURE DAN / ATAU REFERENCE
                  a.   National Fire Codes,
                        1.   NFPA-10, Standard for Portable Fire Extinguisher
                        2.   NFPA-13, Standard for The Installation of Sprinkler Systems
                        3.   NFPA-14, Standard for The Installation of Standpipe and Hose Systems
                        4.   NFPA-20, Standard for The Installation of Centrifugal Fire Pumps
                       5.   SNI  03-1735-2000
                       6.   SNI  03-1745-2000
                  b.   Mc. Guiness, Stein & Reynolds
                        Mechanical & Electrical for Buildings
II.         PERSYARATAN TEKNIS KHUSUS
           
2.1.      LINGKUP PEKERJAAN
a.      Pengadaan dan pemasangan peralatan utama sistem fire fighting yang meliputi Electric Fire Pump, Diesel Fire Pump dan Jockey Pump lengkap dengan panel kontrol, Hydrant Box, Hydrant Pillar beserta pemipaannya.
b.      Pengadaan dan pemasangan valve-valve dari sistem instalasi/pemipaan di setiap gedung sesuai pentahapan pembangunan gedung tersebut.
c.       Mengadakan Testing and Commissioning terhadap seluruh sistem fire hydrant sehingga berfungsi dengan baik.
d.      Mengurus proses perijinan serta persyaratan lain yang diperlukan untuk mendapatkan persetujuan bahwa Instalasi sistem fire Fighting  dapat dinyatakan baik dan layak pakai oleh Dinas Pemadam Kebakaran   .(TAHAP-2)
e.      Pengadaan dan pemasangan system Instalasi listrik dari panel power ke unit panel control unit Fire fighting dank e setiap peralatan pompa.
f.        Mengadakan Training Operasional kepada Team Engineering pemilik proyek dan untuk waktu serta kesiapannya akan ditentukan kemudian bersama Pemilik proyek/Pengawas.
2.2.      SPESIFIKASI TEKNIS PERALATAN UTAMA DAN INSTALASI
2.2.1.  FIRE HYDRANT PUMPS.
            Pompa fire Hydrant merupakan satu kesatuan yang terdiri dari pompa pembantu jockey pump, pompa utama penggerak electric dan pompa utama penggerak engine.
a.      Jockey Pump
Type pompa                     :   Centrifugal multi stage pump
Kapasitas                          :   56 L/men.
Head pompa                    :   85 m
Putaran pompa                :   2.900 rpm
Daya pompa                     :   3.0  kW
Karakteristik listrik           :   380 V, 3 phase, 50 Hz, Variable Speed Drived
J u m l a h                         :   1 (satu) unit.
Lengkap dengan panel kontrol Jockey Pump
b.      Electric Fire Pump
Type pompa                     :   Centrifugal End Suction
Kapasitas                          :   2850 l/men
Head pompa                    :   85 m
Putaran pompa                :   2.900 rpm
Daya pompa                     :   +75 kW
Karakteristik listrik           :   380 V, 3 phase, 50 Hz, Star Delta Start
J u m l a h                         :   1 (satu) unit.
Lengkap dengan Panel Kontrol Electric Fire Pump.
c.       Diesel  Fire Hydrant Pump
Type pompa                      :   Centrifugal End Suction
Kapasitas              :   2850 L/men
Head pompa                     :   85 m
Putaran pompa                 :   2.900 rpm
Type Engine                      :   Diesel
P u t a r a n           :   2.900 rpm
Sistem Coupling                :   Direct Connected
D a y a                   :   + 90 HP
J u m l a h              :   1 (satu) unit
P o w e r                :  Accu 24 volt, 80 Amp, 2 buah type maintenance  free
                  Lengkap dengan Panel Kontrol Engine Fire Pump.
Perlengkapan Engine        :
-  Flexible coupling
-  Coupling guard
-  Heat exchanger loop
-  Batteries
-  Battery rack
-  Battery cable
-  Silencer
-  Flexible ex hose connector
-  Cooling water heater + thermostat.
Perlengkapan pemipaan / pompa, antara lain :
-  Coumpond suction gauge
-  Discharge pressure gauge
-  Automatic air release valve
-  Main relief valve
-  Enclosed waste cone
-  ± 165 gallon fuel tank
-  Fuel system accessories
-  Fitting package
  – Setiap pompa dan sambungan pipa harus digrounding dan untuk pompa harus dilengkapi variable speed drived.
     -  dan lain-lain.
2.2.2.   FIRE PUMP CONTROLLER 
            Panel kontrol merupakan kelengkapan unit tiap-tiap fire Fighting pump yang dapat mengatur kerja pompa secara automatic baik jockey pump sebagai pompa pembantu, pompa utama penggerak electric maupun pompa penggerak engine masing-masingn mempunyai Fire Pump Controller tersendiri.
            Khusus pompa penggerak engine akan bekerja secara automatic bila saluran daya listrik terputus pada saat terjadi kebakaran.
            Fire Pump Controller harus standard NFPA-20.
 2.2.3.   FIGHTING FIXTURES
a.      Hydrant Pillar
-     Jenis two-way, terbuat dari baja tuang diberi penguat pondasi beton         secukupnya.
-     Hydrant Pillar dicat merah dengan cat Duco ex Dana Paints atau cat ICI, (jenis     exterior coating)
b.      Fire Hydrant Box
-       Box terbuat dari plat dengan tebal + 2 mm.
-       Dimensi box : lihat gambar perencana.
-       Seluruh box dan pintu dicat merah dengan cat Duco ex Dana Paints dan diberi       tulisan Hydrant dengan warna merah.
-       Panjang fire hose tidak kurang dari 30 M’  mudah digulung, tahan terhadap     tekanan dan penyambungan dengan sistem quick coupling.
-       Nozzle variable (zet spray) diameter 65 mm semua dalam keadaan baru dan fabricated.
-       Fire hose dari jenis black rubber lined yang memenuhi standard BS 6391.
c.       Seamese Connection
-       Digunakan seamese connection jenis two way type Y terbuat dari baja tuang.
-       Dalam pemasangan unit seamese connection harus diberikan pondasi penguat sebagai dudukan.
-       Lokasi seamese connection mudah dilihat dan dekat dengan jalan laluan mobil    agar mudah untuk dipakai bila diperlukan (lihat gambar perencanaan).
-       Seamese Connection harus sesuai standard DPK, untuk  penggunaan sistem          coupling.
2.2.4.   PIPA DAN VALVE
a.      Pemipaan
·         Material Pipa yang digunakan Black Steel Pipe Sch. 40, atau ASTM A 53 dan harus diusahakan semuanya berasal dari satu merk.
·         Demikian juga untuk fitting digunakan Black Steel Pipe class 15 K, Weld Type.
b.      Valve – valve
      Working Pressure : 300 psi (15 bar)
      Gate Valve :
·         Tipe bronze body, non rising stem, screwed bonnet, solid wedge disk, screwed end untuk valve sampai dengan diameter 50 mm atau bisa digunakan tipe Butterfly untuk diameter 15 mm sampai dengan diameter 25 mm.
·         Tipe flanged or lugged body, stainless steel disk, stainless steel shaft, hand wheel operated with position indicator untuk valve lebih besar dari diameter 50 mm dengan body material cast iron untuk tekanan 150 psi dan carbon steel untuk tekanan 300 psi.
      Check Valve :
·         Material bronze body, swing type, Y pattern, screwed cup, metal disk, screwed end untuk valve sampai dengan diameter 50 mm.
·         Swing silent type dengan stainless steel disk dengan body material cast iron untuk tekanan 300 psi dan carbon steel untuk tekanan 300 psi.
·         Khusus untuk pompa-pompa hydrophor digunakan dual plate wafer type check valve.
c.       Tekanan Kerja Valve :
·         Untuk keperluan fire fighting  digunakan valve – valve dengan tekanan kerja minimum 300psi  (15 bar).
2.3.      SYARAT-SYARAT PEMASANGAN
2.3.1.   PEMASANGAN UNIT POMPA
a.      Seluruh unit pompa harus dipasang dan didudukkan diatas fondasi dengan kuat dan kokoh.
b.      Metoda dan persyaratan instalasi pompa, pemipaan serta peralatan pemipaannya harus mengikuti dan mengacu kepada Standard NFPA-20.
2.3.2.   INSTALASI PEMIPAAN
            a.   Sistem Penyambungan Pipa
-        Menggunakan sambungan ulir/screwed atau las untuk pipa berdiameter 75 mm ke bawah dan menggunakan sambungan flanged untuk diameter pipa 100 mm ke atas dengan maximum dua batang pipa serta pada belokan minimal 5 kali diameter pipa dari bahan yang sesuai dengan jenis bahan pipanya (long elbow).
-        Sambungan flanged dilakukan pada setiap belokan dan pada setiap dua batang pipa pada pipa lurus.
-        Untuk mencegah  terhadap kebocoran, penyambungan pipa dengan ulir harus terlebih dulu diberi lapisan red lead cement atau pintalan khusus dari asbes.
      Sedangkan untuk sambungan flanged harus dilengkapi ring dari karet secara homogen.
            b.   Penumpu Pipa
-        Seluruh pipa harus diikat/ditetapkan, kuat dengan dudukan dan angker yang kokoh (rigit), agar inklinasinya tetap, untuk mencegah timbulnya getaran  dan gerakan.
-        Pipa horizontal harus ditumpu dengan penyangga  dengan jarak antara tidak lebih dari 2,5 m.
            c.   Pemasangan Fixtures dan Fitting
-        Semua fixtures harus dipasang dengan baik dan di dalamnya bebas dari kotoran yang akan mengganggu aliran atau kebersihan air, dan harus terpasang dengan kokoh (Rigit) ditempatnya lengkap tumpuan yang mantap.
-        Semua fixtures, fitting, pipa-pipa hidrant dilaksanakan harus rapi.
-        Untuk pipa-pipa yang tekanan airnya tinggi (pipa induk), dipasang balok-balok dari beton dengan campuran yang kuat (K.225) dan dipasang setiap ada sambungan pipa (tee, elbow, valve ) dan sebagainya.
-        Tinggi pemasangan dari lantai + 20 cm (muka tanah jadi).
      Perletakan engsel disesuaikan dengan keadaan setempat sehingga mudah untuk dibuka/tutup.
2.4.      SYARAT-SYARAT PENERIMAAN
2.4.1.   M A T E R I A L
a.      Kontraktor harus menjamin seluruh unit peralatan yang didatangkan adalah baru (New Product), bebas dari defective material, improver material dan menjamin terhadap kualitas atau mutu barang sesuai dengan tujuan spesifikasi.
b.      Setiap material atau peralatan yang tidak memenuhi spesifikasi harus diganti dengan yang sesuai dan dalam jangka waktu tidak lebih dari 1 (satu) minggu setelah ditanda tangani berita acara penerimaan barang.
c.       Seluruh biaya yang timbul akibat penggantian material/peralatan menjadi tanggungan/beban Kontraktor.
2.4.2.   CONTOH BARANG
a.      Pemborong wajib mengirimkan contoh-contoh bahan yang akan digunakan dalam pelaksanaan kepada Pengawas atau Brosur-brosur dari alat-alat tersebut dan menunggu persetujuan dari pemilik proyek/Pengawas/Perencana sebelum alat-alat tersebut dipasang.
b.      Contoh barang dimasukkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah diturunkannya SPK untuk diperiksa Pemilik/Perencana dan Pengawas.
c.       Contoh-contoh barang yang sudah disetujui oleh pemilik proyek/Pengawas/ Perencana harus disimpan di Direksi Keet guna dijadikan Referensi bagi pemasangan di lapangan.  Bila bahan-bahan tersebut diragukan kualitasnya akan dikirimkan ke kantor penyelidikan bahan-bahan atas biaya Pemborong.  Bila ternyata terdapat bahan-bahan yang telah dinyatakan tidak baik/tidak bisa dipakai oleh Pengawas/ Perencana, maka Pemborong harus mengangkut bahan-bahan tersebut ke luar lapangan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari, harus sudah tidak ada di lapangan (site).
2.4.3.   PENGUJIAN INSTALASI PEMIPAAN
a.      Sebelum dipasang fixtures-fixtures dari seluruh sistem distribusi, installasi pemipaan air harus diuji dengan tekanan 20 kg/cm2, tanpa mengalami kebocoran dalam waktu minimum 24 jam tekanan tersebut tidak turun/berubah.  Pada prinsipnya pengetesan dilakukan dengan cara bagian demi bagian dari panjang pipa maximum 150 meter.
b.      Biaya pengetesan serta alat-alat yang diperlukan adalah menjadi tanggung jawab Pemborong/ Kontraktor.  Pengetesan pipa harus dilaksanakan dengan disaksikan oleh Pengawas dan wakil dari pemilik proyek/Perencana, selanjutnya apabila telah diterima/memenuhi syarat akan dibuatkan Berita Acaranya.
c.       Di dalam setiap pelaksanaan pengujian, balancing dan “trial run” sistem instalasi ini haruslah pula dihadiri pihak pemilik proyek/Perencana/Pengawas dan  Ahli serta pihak-pihak lain yang bersangkutan. Untuk ini hendaklah diberikan pula sertifikat pernyataan hasil pengujian oleh yang berwenang memberikannya.
2.4.4.   PEMBERSIHAN LAPANGAN
a.      Lapangan yang dipergunakan harus setiap hari setelah selesai bekerja dibersihkan oleh Pemborong.
b.      Segera setelah Kontrak selesai maka Pemborong harus memindahkan semua sisa bahan pekerjaannya dan peralatannya kecuali yang masih diperlukan selama pemeliharaan.
2.4.5.   P E N G E C A T A N
a.      Semua pipa dari besi/baja dalam tanah harus dililit dengan karung goni dan dilapisi dengan Tar (Tar coated) untuk penahan Korosi atau dengan bahan anti karat sintesis yang dispesifikasi untuk keperluan pemipaan bawah tanah. Sedangkan untuk pipa-pipa yang terlihat (exposed) harus diberi tanda dengan warna atau cat yang warnanya akan ditentukan kemudian oleh Pengawas.
b.      Untuk pipa-pipa dalam ceiling agar mudah dikenali diberikan tanda warna/cat pada setiap jarak + 4 m dengan arah aliran pada pipa-pipa induk, begitu pula pipa-pipa pada shaft dimana terletak pintu pemeriksaan.
c.       Sebagai patokan dipakai warna cat sebagai berikut :
      Untuk jaringan pipa hydrant dipakai warna merah
d.      Khususnya untuk identifikasi dan penentuan warna cat dari masing – masing instalasi Plumbing dan Hydrant akan ditentukan kemudian bersama Pemilik / Pengawas.
2.4.6.   SURAT KETERANGAN
            Pemborong harus memberikan Surat Keterangan/Sertifikat dari Dinas Pemadam Kebakaran Daerah  yang menunjukkan bahwa Sistem tersebut dapat dipergunakan dan berfungsi dengan baik.
            Surat Keterangan keagenan yang berada di Indonesia untuk material – material import.
2.4.7.   DATA SUKU CADANG
            Pemborong harus menjamin dan melengkapi dengan Surat Jaminan adanya suku cadang yang mudah diperoleh pada peralatan-peralatan yang sekiranya akan mengalami gangguan atau kerusakan dalam waktu tertentu, baik untuk peralatan utama maupun peralatan penunjang.
2.5.      SYARAT-SYARAT OPERASIONAL
a.      Pelayanan hydrant diluar/di dalam bangunan  dan sprinkler menggunakan satu set pompa yang terdiri dari jockey pump, electric hydrant pump dan diesel hydrant pump.
b.      Pengaturan kerja pompa dilakukan secara automatic dengan pressure switch pump Control, control valve serta panel-panel pengoperasian.
      Semua ketentuan-ketentuan unit pompa beserta perlengkapannya  harus mengikuti NFPA 20 standard.
2.6.      SYARAT-SYARAT PEMELIHARAAN
2.6.1.   SYARAT UMUM
a.      Pada saat penyerahan untuk pertama kalinya Pemborong harus menyerahkan gambar-gambar, data-data peralatan petunjuk operasi dan cara-cara perawatan dari mesin-mesin terpasang di bawah Kontrak ini.  Data-data tersebut haruslah diserahkan kepada pemilik proyek/Pengawas sebanyak 4 (empat) set dan kepada Perencana 1 (satu) set.
b.      Pada saat penyerahan pertama harus diserahkan antara lain : Instruction Manual, Installation Manual, Maintenance Manual, Operating Instruction, Trouble Shooting Instruction.
c.       Hendaknya diberikan pula 2 (dua) set singkatan petunjuk operasi dan perawatan kepada Pemilik, sebuah dipasang dalam suatu kaca berbingkai dan ditempelkan di dinding dalam ruang mesin utama atau tempat lain yang ditunjuk oleh pemilik proyek/Pengawas.
d.      Pemborong harus memberikan pendidikan praktek mengenai operasi dan perawatannya kepada petugas-petugas teknis (Team Engineering) yang ditunjuk oleh pemilik proyek secara cuma-cuma sampai cakap menjalankan tugasnya.
e.      Pemborong harus memberikan Surat Garansi dari  pemakaian peralatan-peralatan utama kepada Pemberi Tugas.
2.6.2.   MATERI PEMELIHARAAN
Selama masa pemeliharaan, Pemborong wajib melakukan pemeliharaan secara berkala terhadap seluruh Instalasi Sistem, baik peralatan utama maupun instalasi pemipaannya.
Pelaksanaan pemeliharaan menyangkut item-item dan tidak terbatas pada berikut ini :
a.    Pemeriksaan terhadap :
- Fungsi dan mekanisme kerja kontrol
- Mekanisme kerja panel-panel kontrol
b.    Pemeriksaan terhadap: Battery Charger, penggerak engine, minyak pelumas sistem pompa dan sistem engine
c.    Testing terhadap bekerjanya unit-unit sistem, yaitu pompa penggerak elektrik dan diesel
d.    Bersihkan seluruh peralatan dari kotoran
e.    Pembersihan tangki bahan bakar
f.     Penggantian minyak pelumas.
2.6.3.   PETUNJUK PEMELIHARAAN
a.   Sebelum dilakukan serah terima pekerjaan, Pemborong harus menyerahkan    Buku Petunjuk Pemeliharaan terhadap seluruh peralatan utama (pompa, motor, diesel, panel listrik, panel kontrol, dll.) dan  Instalasi serta daftar material/ komponen yang memerlukan penggantian secara berkala.
      Buku yang diserahkan harus dalam bentuk edisi lux  dan dijilid dengan rapih dan bagus.
      Petunjuk pemeliharaan harus mencantumkan ringkasan dari pemeliharaan berkala yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat dan standard/aturan yang berlaku secara umum.
b.  Di dalam buku pentunjuk pemeliharaan tersebut harus diuraikan secara jelas dan ringkas mengenai tatacara/prosedur pemeliharaan, contoh data logbook pencatatan (harian, mingguan, bulanan dan tahunan).
c.   Jumlah buku yang harus disediakan oleh Pemborong sebanyak 5 (empat) set, masing-masing 3 set untuk Pemilik Proyek, 1 set untuk Pengawas/MK dan 1 set untuk Perencana. Seluruh biaya yang diakibatkan oleh pembuatan dan pengadaan buku tersebut ditanggung oleh Pemborong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar